Atmosfer Cinta

by, junita sari

Sraak .. sraak .. bunyi daun yang berhamburan ke segala arah akibat gesekan yang di timbulkan dari sepatu warna hitam ku yang ikut meramaikan kegerumuhan sekolah pada pagi itu. Aku adalah seorang siswi yang duduk di bangku kelas 1 SMA di salah satu sekolah swasta yang berlokasi tak jauh dari rumahku, mungkin hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja untuk dapat sampai kesana. Itupun jika menggunakan kendaraan.

Asyifa Ananda, itulah namaku. Aku patut bersyukur kepada Allah swt, bahwasanya aku terlahir dengan segala kesempurnaan-Nya menciptakan aku dengan sejuta anugerah, dan bunda yang telah melahirkan ku.
Pagi cerah kali ini, seperti memberikan ku semangat baru untuk menghadapi hari-hari ku di sekolah baru. Waktu pembagian kelas, aku pun ditempatkan di kelas 10 A. Tak ada perasaan apapun ketika aku masuk ke kelas itu, tidak senang juga tidak sedih. Semuanya terasa netral. Mungkin saja aku belum bersahabat dengan udara di sekitar ruang kelas.
“ ehm, hai “, sapaku malu dengan teman yang duduk di sebelah kanan ku.
“ oh, halo “, sambutnya dengan senyuman.
Sepertinya dia orang yang ramah, dan baik. Melihat senyumnya, aku pun ikut merangkai senyum dibibirku.
“ Aku Syifa, ehm .. tepatnya Asyifa Ananda. Panggil saja aku Syifa. Kamu ?”, kataku memperkenalkan diri.
“ Oh, Syifa. Nama yang cantik. Baiklah, aku Friska Irsyena. Kau bisa memanggilku Ike”, balik memperkenalkan diri.
Baiklah, misi pertama sukses. Aku sudah mempunyai teman, setidaknya 1 orang.
Teeeetttt .. teettt , bunyi bel listrik di sekolah pun berbunyi tanda pelajaran telah berakhir. Karena jarak sekolah dan rumah tak jauh, aku pun memutuskan untuk pulang naik angkutan umum. Aku pun berhenti di depan komplek perumahan rumahku. Dan pada saat yang bersamaan, sebuah motor melintas kencang dan sontak aku terkejut karena seragam baruku kotor akibat cipratan air yang disebabkan oleh motor tersebut.
“ Oh my god. Seragamku. Uh,, siapa sih tu orang!”, gerutuku
Motor itu berhenti dan membalik arah menuju kearahku “ eh, maaf ya maaf. Gak sengaja nih. Beneran deh”, sahut seseorang laki-laki di depan ku.
“ eh, kamu ya yang bawa motor ta,,, “, jawabku yang lansung terdiam melihatnya.
“ ta,, apa maksudmu?”, tanyanya.
“ eh, nggak kok. Gak jadi.”, jawabku bingsal dan langsung menundukkan kepala.
Sesuatu aneh. Ya, itulah yang aku rasakan saat ini. Habis kata-kata seketika. Seperti ada yang konslet di otakku. Dia salah, bukannya aku marah tapi malah bingung mau berbuat apa. Ada yang berubah. Hemm, nampaknya atmosfer sekitar berubah menjadi berbeda. Tanda apa ini ?.
“ ohya, maaf banget ya. Baju mu kotor tuh. Pakai jaket ku saja dulu, untuk menutupinya. Biar ku antar kau kerumahmu.”, tawarnya.
“ eh, iya. Makasih. Maaf merepotkan.”, jawabku kaku sambil menjulurkan tangan mengambil jaket merahnya.
“ tak apa. Ini memang salahku. Ayo naik kemotorku.”, tawarnya lagi.
Mukaku pun berubah merah padam. Bagaimana tidak. Cowok putih, tinggi, mancung, ramah, baik, manis, cakep, dan paling terpenting ia benar-benar tipe idolaku. Layaknya dikirim dari khayangan dan di pertemukan ku lewat alam nyata tak terduga-duga dalam kondisiku yang hancur lebur berantakan dan kotor, serta bau. Tak tau apakah ini patut di bilang beruntung ataukah sial. Eh tunggu, nampaknya dia satu sekolah denganku, dilihat dari seragamnya sih iya. Setelah sampai mengantarkanku tepat di depan rumah, ia pun langsung pamit pulang tanpa sempat berkenalan denganku.
“ uh, baunya badanku. Aku harus mandi!”
Ku lihat di pojok kiri bawah jaketnya terlihat seperti rajutan sebuah nama. Fadil ryansyah, sepertinya itu namanya. Nama yang bagus seperti orangnya. Baiklah, berhubung ia satu sekolah denganku maka itu mempermudahku untuk mengembalikkan jaket ini kepadanya, apalagi aku telah mengetahui namanya.
Oh ya, di mading sekolah pasti tertera nama seluruh siswa dan kelas nya masing-masing. Baiklah, ide yang bagus. Aku akan mencarinya disana.
“ Hem, yeeyy aku ketemu. Ini dia, Fadil Ryansyah kelas 10 C. Hanya beda 2 kelas dari ku. Baik, akan ku cari kau kesana”
Teeett, teeett, tanda istirahat berlangsung. Waktu yang tepat untuk ku menghampirinya.

celingak..celinguk aku kebingunan seperti sapi ompong karena orang yang aku cari tak kunjung manampakan hidungnya “ diamana dia? Ehm, itu dia!”, kataku girang.
“ ehm, hai “, sapaku
“ eh, kau gadis kemarin kan?” tanyanya
“ hem, iya. Aku Asyifa Ananda. Kelas 10 A. Ohya, ini aku mau mengembalikan jaketmu kemarin”, kataku memperkenalkan diri.
“ Eh, iya Asyifa. Hem, oh iya aku Fadil Ryansyah. Maaf ya soal kemarin dan terimakasih juga atas kembalian jaketnya “, balasnya ramah.
“ Oh.. oke, gak masalah kok. Makasih juga ya ,. ehm .. Fadil “, balasku balik.
“ Mau ke kantin bareng ? “, tawarnya
“ Oh ya, boleh juga “, ku terima tawarannya dengan senang.
Hem.. Ini semua seperti magic saat ku bersamanya. Entah apa yang kurasa, atmosfer bumi serasa berubah, aku belum dapat memastikannya hingga saat ini. Sejak saat itu pun, aku mulai mengaguminya secara perlahan dengan diam-diam.
Sebulan sudah aku duduk di bangku SMA, dan selama sebulan juga aku mengagumi Fadil. Suasana yang terasa netral-netral saja bagiku saat di sekolah malah berbalik seperti memberikanku semangat yang luar biasa. Tapi sejak itu, aku tak pernah menghampirinya lagi, lebih tepatnya aku tak berani. Hanya melihatnya dari jauh saja itu sudah cukup untuk ku.
Aku mengharapkan Fadil, tapi yang datang malah surat, bunga, Direct message melalui twitter, chat mealui facebook, SMS, bahkan telefon dari anak-anak cowok kelas X bahkan kakak-kakak tingkat yang katanya mengagumiku. Memang sih, banyak orang yang bilang kalau aku gadis yang lucu dan cantik, yaa.. mungkin karena mamaku adalah mantan seorang model saat mudanya sehingga aku masih diwariskan keturunan cantiknya mama. Karena aku merasa semua orang itu sama, jadi aku biasa saja dengan semua ini. Hanya patut bersyukur pada Tuhan yang Maha Esa saja. Aku tak mengharapkan cinta yang seperti itu, hanya memandang kecantikan ku saja, yang aku mau rasa kasih yang tulus seperti yang dimiliki Fadil.
Pulang sekolah ini, rasanya aku ingin mampir ke ruang musik. Sedikit bermain musik mungkin saja bisa meringankan pikiranku sejenak. Biasanya ruang musik sepi kalau pulang sekolah, karena para murid lebih memilih untuk bermain musik saat sabtu sore sehabis ekskul sekolah. Tapi heran, sepertinya ada yang bermain piano. Alunan nada-nada piano yanng merdu mengalun indah terdengar lembut di pendengaranku. Eh, tapi itu siapa?. Fadil ! astaga.. seketika ia mengunci sendi-sendi tubuhku lagi dengan atmosfernya itu. Aku hanya diam tak berkutik menyaksikan pesona nya memainkan not-not piano. Semakin membuatku berfikiran bahwa kau perfect, walau mustahil bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna selain Tuhan.
Dia melirikku!. Membangunkan lamunan ku dalam sekejap. Merasa bersalah, aku pun memberanikan diri menghampirinya.
“ Permainan yang indah”, pujiku dengan senyuman.
“ Terima kasih kau memperhatikanku. Kau ke ruang musik mau bermain piano juga?”, tanyanya.
“ Sama-sama. Oh , tidak. Aku ingin bermain biola awalnya, melihatmu membuatku lupa hingga aku memperhatikanmu.”, jawabku apa adanya.
“ haha .. kau lucu sekali. Baik, sekarang giliran aku yang memperhatikanmu. Setelah itu, ayo kita berkolaborasi.”, ajaknya.
“ baik “, sahutku bersemangat
Kami berpadu dalam musik. Bersahut-sahutan antara irama piano dan biola. Kolaborasi yang sangat indah. Tak terasa senja pun telah datang, kami berdua memutuskan untuk pulang. Tinggal tersisa kami berdua di sekolah, tak tega akhirnya Fadil pun mengantarkan ku pulang. Nampak nya aku telah terikat oleh atmosfer cintanya Fadil. Ya, kini aku telah yakin akan perasaan itu.
Kami memiliki banyak kesamaan. Kami senang musik, kami senang perpustakaan, kami sama-sama simple. Dan, aku juga berharap ia bisa memiliki perasaan yang sama dengan ku.
Kami sekarang menjadi lebih dekat, ia lebih sering berkunjung ke kelasku untuk mengajak ke kantin bareng, ke perpustakaan bareng, ataupun ke ruang musik bareng. Aku merasa nyaman bersamanya. Apalagi, kini ia sering mengantarku pulang jika kami sama-sama sedang tak ada pekerjaan di luar jam pelajaran sekolah. Ini lah yang ku harapkan selama ini. Sekarang aku percaya, bahwa benar indah itu akan datang pada waktunya.
Malam ini sangat indah, bintang-bintang pun ikut meramaikan indahnya malam ini. Saat ku memandang keluar jendela menikmati malam hari ini, handphone ku pun berdering menanadakan SMS masuk. Nomornya tidak ada di contact list number handphone ku, siapa ya?. Dengan penasaran, aku pun membuka SMS itu.
“ Hai.. Syifa. Selamat malam yang penuh bintang. Aku Fadil, sebelumnya maaf jika aku menganggu waktu malammu. Aku hanya ingin mengatakan perasaan ku saja, sebenarnya aku sudah tertarik melihatmu sejak kejadian pertama kali kita bertemu di jalan pada waktu itu. Kau sangat berkesan untukku. Tapi aku tak mau terlalu cepat percaya dengan perasaan itu, aku tak mau perasaan itu ternyata hanya perasaan yang terpaling akan kecantikanmu saja. Apalagi, ku dengar banyak murid cowok di sekolah menyukaimu karena kau cantik. Memang benar kau cantik, tapi aku tak mau menyukaimu hanya karena rupamu. Perasaan yang benar-benar tulus itulah yang ku mau. Maka dari itu, awalnya ku biarkan saja itu berlalu walau perasaan ku tak bisa lepas untuk mengagumimu. Tapi sejak di ruang musik itu sampai saat ini, aku yakin bahwa aku menyukaimu karena dirimu, dan karena kau Syifa bukan karena rupamu dan karena kau layaknya bidadari. Atmosfermu sudah mengikat perasaan ku untuk menyukaimu dengan perasaan tulus ini. Aku Fadil Ryansyah sangat menyukai Asyifa Ananda sebagai Syifa yang aku kenal. Terima kasih kau telah membuat ku untuk terlalu sayang kepadamu.”
Aku tersontak diam penuh bahagia melihat SMS itu. tak sadar aku menitikkan haru air mata bahagia ini di pelipis mataku. Aku pun habis kata-kata dan hanya dapat membalas “ Aku juga sangat menyukai mu Fadil Ryansyah sebagai Fadil yang aku kenal. Dan terima kasih pula atas atmosfer cinta yang telah kau beri selama ini. Aku menyayangi mu Fadil.”
Ini lah yang terjadi pada akhirnya, atmosfer cinta lah yang telah menyatukan perasaan kami berdua, bersatu padu dalam harmoni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s