Ayah.. izinkan aku mendengar do’amu

by, junita sari

Lainah Munaa Itulah namaku . Tapi, kebanyakan orang memanggilku Naa. Ayah lah yang memberikan nama itu kepada ku ketika aku lahir. Lainah Munaa yang memiliki arti “harapan si pohon kecil”, kata Ayah nama itu sangat cocok buat ku karena aku diibaratkan pohon kecil yang berharap tumbuh menjadi pohon dewasa. Seperti diriku yang ingin tumbuh menjadi gadis dewasa harapan Ayah. Dengan keringat dan jerih payahnya Ayah berusaha agar aku dan keluargaku dapat hidup dengan bahagia dan tercukupi. Sekolah yang layak dan mendapatkan kebahagiaan. Itu memang sebuah harapan yang kecil tapi akan berkembang menjadi kebahagiaan yang besar bagi kami.

Ayah bukanlah anak yang hidup dalam keluarga berkecukupan, dia hanya anak perantau dari desa dengan penghasilan minim. Ayahku yang masih kecil saat itu harus berusaha sendiri mencari nafkah sambil bersekolah, dari sanalah sebagai anak tertua ayahku melakukan pekerjaan apapun demi Ibu dan keempat adiknya. Kehidupan Ayah yang sulit dan menyedihkan membuatnya berusaha agar kelak anaknya tak menjadi seperti dirinya. Beruntungnya kehidupan kami semakin membaik setelah Ayah berbisnis merawat lahan teh sepeninggalannya Kakek atau Ayah dari Bunda. Syukurlah , bisnis Ayah berkembang besar dan sudah bisa membuat sebuah pabrik usaha sendiri.

Masih terniang-niang diingatanku ketika aku yang begitu lincahnya bertanya kepada Ayah dan jawaban Ayah yang selalu membawa kedamaian di hati. Dengan sabarnya Ayah menjawab pertanyaanku bahkan yang tidak jelas sekalipun. Mengingat  betapa polosnya aku dulu.

 “Ayah berapa jumlah bintang dilangit ?” tanyaku

“Tak terhingga Naa sayang sama seperti sayang Ayah yang tak terhingga kepadamu” jawab Ayah dengan bahagia.

“Ayah apakah Naa cantik seperti Bunda ?” tanyaku lagi

“Naa sama cantiknya seperti bunda , tak ada yang bisa menandingkan kalian berdua di hati Ayah”  jawab Ayah dengan ciri khas senyumnya yang manis.

“Ayah dimana Allah berada?” tanyaku lagi dan lagi.

“Allah ada dihati kita Naa sayang”  jawab Ayah dengan lembut.

Dan sederet pertanyaan yang terurai dari mulut kecil ku serta sederet jawaban indah Ayah. Tapi, aku mulai berhenti untuk bertanya kepada Ayah sejak …

Malam itu, aku melihat Ayah yang selesai dari shalat isya’nya dan khusuk dalam do’anya, sehingga membuat rasa penasaranku datang seketika untuk bertanya kepada Ayah.

“Ayah, apa yang selalu Ayah do’a kan ketika Ayah selesai shalat?” tanyaku dengan penasaran.
Tapi, Ayah malah diam terpaku dan pergi seketika tanpa menghiraukanku.

Saat itulah aku berpikir bahwa cinta kasih Ayah telah pudar kepadaku. Semakin lama rentang jarak aku dan Ayah semakin menjauh, ditambah lagi aku yang semakin beranjak dewasa.

Tak hanya hubungan aku dan Ayah saja yang semakin menurun tetapi kondisi fisikku pun juga. Tubuhku sangat rentan untuk jatuh sakit. Aku bingung dengan keadaan ini dan mencoba untuk menyimpannya dari Ayah dan Bunda karena aku takut akan mengkhawatirkan mereka. Sebenarnya, Ayah mencoba untuk tetap dekat kepadaku seperti saat dulu tapi kebalikannya aku malah ingin menghindar dari Ayah sesuai paradigmaku tentang Ayah. Ayah yang tak sayang pada putrinya. Ayah yang sudah bosan kepada putrinya. Ayah yang tak peduli lagi dengan putrinya.

Pemikiran-pemikiran bodoh itulah yang selalu teruntai di fikiranku. Aku tak ingin memperburuk pandangan aku tentang Ayah terus-menerus.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan ? Jika, engkau memperbolehkan aku untuk mengetahui doanya mungkin aku tak akan seperti ini. Ampuni aku ya Tuhan yang telah mengecewakannya”

                Sekarang aku berumur 15 tahun dan duduk di bangku 1 SMA. Aku bersekolah di salah satu sekolah internasional ternama di Bogor yang ku dapatkan dari beasiswa yang dicapai dengan prestasi ku semasa SMP dulu. Selama itulah Ayah menemaniku dalam mengurusi berkas-berkas untuk masuk SMA. Dan di saat itulah juga hati ku tersayat sangat dalam, Ayah sangat sabar dan bersemangat demi aku agar bisa masuk ke sekoah itu. Taukah? Saat itu aku benar-benar ingin memeluk Ayah dengan erat, erat sekali bahkan. Tapi apa daya, ego ku mengalahkan keinginan tulusku itu sehingga aku malah bersikap cuek bukan malah sebaliknya. Hari pengumuman pun tiba dan karena berkat Tuhan dan segenap do’a Ayah aku bisa masuk ke sekolahan itu.

                Tak terasa 5 bulan sudah aku merasakan bangku SMA. Dan selama itu juga aku merasakan sakit yang luar biasa yang tiba-tiba sering muncul yang menyebabkan aku harus bolak-balik ke klinik sekolah. Aku bingung dengan apa yang terjadi denganku belakangan ini tapi aku juga takut untuk menceritakan ini semua kepada Ayah dan Bunda. Sehingga aku memutuskan untuk menyimpannya dan merasakannya sendiri. Apalagi aku juga tak ingin mengecewakan Ayah lagi dan lagi.

                Belakangan ini juga aku sering memergoki Ayah sedang berteleponan dengan Dr. Danis. Bunda bilang bahwa Dr. Danis adalah teman kecil Ayah sehingga aku percaya saja dengan penjelasan Bunda dan tak mau ambil pusing dengan semua itu.

                Krrriiiiiiinnnnggg … nyaring nya bunyi alarm ditambah dinginnya pagi yang diselingi rintikan hujan pada saat itu membuatku tersontak membuka mata tapi masih enggan untuk beranjak dari kasur empukku. Kukumpulkan tenagaku untuk beranjak dari tidur, kuusap-usapkan mataku kemudian berdiri perlahan-lahan. Sakit itu pun tiba-tiba datang lagi. Sakit yang teramat luar biasa itu. Mengunci seluruh tubuhku untuk bergerak.

“Bu..Bu..ndaa.. Bun..daa…” panggilku

Beberapa kali aku mencoba dengan sedikit tenagaku yang tersisa untuk memanggil Bunda. Tapi tak ada jawaban. Dan aku lupa, hari itu adalah hari minggu. Bunda biasanya pergi kepasar bersama Ayah untuk berbeanja kebutuhan sehari-hari.

“Aduuuhh .. saa..kitttttt..” rintihku sambil menangis.

Ku tekan kuat-kuat kepalaku hingga sakit itu pun berkurang perlahan-lahan. Ting.. tong.. ting.. tong.. bel rumahku pun berbunyi.

“Ahh.. itu pasti Ayah dan Bunda.. wajahku tak boleh berantakan seperti ini nanti Ayah dan Bunda pasti curiga” batinku.

Aku pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukaku.

Cekleeekk ..  “Pagi .. Naa  sayang” sapa Bunda langsung ketika aku membuka pintu.

“Pagi.. Bunda” sapaku balik.

Bunda pun langsung pergi ke dapur setelah itu.

“Naa.. ada apa dengan mu nak ?” tanya Ayah curiga.

“Aku tak apa” jawabku singkat kemudian kembali ke kamar tidur ku lagi.

Bagaimana Ayah bisa tahu kalau ada yang tak beres denganku. Huuhh.. Ini beberapa kalinya aku berbohong dengan Ayah.
“  Ampuni aku ya Tuhan” ampunku.

Aku masih menganggap sakit ku yang datang belakangan ini adalah sakit biasa dan tak memperdulikannya sedikit pun. Hingga akhirnya …

3 tahun kemudian…

Hari senin , seperti biasanya sekolah ku mengadakan upacara bendera. Aktifitas rutin setiap hari senin. Teriknya matahari membakar pori-pori ku. Tak tahu kenapa pandangan ku menjadi buram dan tubuhku mulai melunglai hingga akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri ketika pembacaan UUD berlangsung. Geni dan Andin yang merupakan sahabat karibku memopong tubuh mungilku ke klinik sekolah. Ini kesekian kalinya aku pergi ke klinik belakangan ini. Entah kenapa, akupun tak tahu. Tetapi anehnya aku belum sampai pingsan bahkan sampai disertai keluarnya darah dari hidung kecilku. Setengah jam sudah aku tak sadarkan diri dari pingsanku itu. Pihak sekolahpun hingga panik dan akhirnya membawaku ke rumah sakit umum terdekat. Percaya ataupun tidak aku sampai di-opname.

                Sedangkan di pabrik teh Ayah terlihat beberapa kali memandangi jam tangan kesayangannya. Menunggu waktu siang, bukan karena lapar tetapi karena dia gelisah ingin cepat-cepat pulang. Bahkan ia bingung tak tahu apa yang menyebabkan kegelisahan itu datang tiba-tiba. Nada dering Ayah pun tak lama berdering. Betapa kagetnya dia mendengar berita mengenai aku yang sedang berbaring di rumah sakit ditambah ia mengetahui bahwa aku telah masuk ke masa koma 35 menit yang lalu. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas pergi ke rumah sakit tanpa menghiraukan apapun selain .. aku , ya aku si pohon kecil Ayah.

                Betapa sakitnya hati Ayah meihat tubuh mungilku yang berbaring tak berdaya di atas kasur yang berselimutkan serba putih itu. 4 jam 50 menit sudah aku mengalami masa koma hingga akhirnya aku bisa tersadar dan melihat sekeliling orang yang menyayangiku. Betapa senangnya hatiku melihatnya. Kata dokter kondisi ku benar-benar tingkat kritis. Dengan sekuat tenaga yang telah ku raih aku pun dapat tesenyum yang menjadikan senyum termanis sepanjang hidupku.

                Ternyata aku mengidap kanker otak stadium 4. Sebenarnya dokter bilang bahwa aku telah diponis kanker otak sejak 3 tahun yang lalu, sejak awal pertama aku duduk di bangku SMA dan awal aku merasakan sakit yang luar biasa datang tiba-tiba di hidupku. Masa remaja yang indah tak kudapatkan dengan seutuh selayaknya remaja pada umumnya.

                 Sekuat tenaga aku kumpulkan untuk meminta maaf kepada Ayah dengan seluruh jiwa ragaku. Tak tahu seberapa besarnya dosa ku terhadap Ayah. Detik-detik hembusan terakhir itulah  terungkap semua konflik diantara aku dan Ayah.

“Harapan agar dia tumbuh dan bertahan hidup menjadi sebuah pohon yang besar seperti namanya, Lainah Munaa-harapan si pohon kecil”- itulah do’a Ayah dalam shalatnya. Aku menangis tertegun mengetahuinya, ditambah aku tahu bahwa ayah selama ini memantau kesehatanku setiap saat. Ternyata kanker otak yang ku idap selama ini merupakan keturunan dari Kakekku – Ayahnya Ayah. Waktu itu Kakek telah berpesan pada Ayah bahwa keturunan pertama Ayah akan mewarisi penyakit kakek. Itulah takdir hidupku. Maka dari itu Ayah terus berharap tentang hidupku, melalui do’a-do’anya kepada sang Kuasa, sepanjang hidupku ini. Itulah alasan mengapa Ayah tak mau memberitahu sedikitpun do’a-do’anya.

“Tuhan .. ampuni aku yang telah memandang Ayah dengan sebelah mata. Dan Tuhan .. izinkan aku bertemu dengan Ayah disurga nanti untuk menebus kesalahanku”. Sampai saat nanti Ayah dan aku akan berjumpa. Di dunia yang berbeda dan hidup yang berbeda. Itu lah bagian terakhir hidupku sampai aku bertemu sang Khalik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s