Bintang Harapan

by, junita sari

https://junitasarigoblog.files.wordpress.com/2013/08/307a4-smilestar.gif

Tap .. tap .. tap .. berjalan menapakki terowongan koridor sambil memakai baju serba putih yang bergelarkan dokter, membuatku tampak lebih keren. Apalagi dengan eksen kacamata frame hitam ku, tak kusangka aku bisa terlihat sehebat ini. Sungguh anugerah yang tak tertandingi. Ku masuki ruangan praktekku dan ku gantungkanlah seragam putih itu masih tampak rapi, jam pun telah tampak lelah karena mengingat sekarang telah menunjukkan pukul 22.05, waktunya untuk pulang ke apartemen. Lelah bisa dikata, tapi ini lah kewajibanku dan selipan harapan besarku yang dibaluti bintang dalam botol kaca. Tak bisa di hindar, aku sangat menyukai pekerjaan ku dan itulah hidupku. Ku ambillah kunci mobil sedan merah mudaku dan ku kendarai dengan santai sepanjang jalan. Betapa ku sangat menikmati hidupku.

Tepat pukul 22.30 aku sampai di apartemen ku. Gelap lah yang terlihat ketika aku berhasil membuka kunci apartemenku. Aku mencoba untuk menghidupkan lampu, tapi terlihat oleh ku secerah cahaya emas yang terpantul ke tembok telah mengambil alih perhatianku. Segera ku hidupkan lampu, dan kucari sumber cahaya itu. Oh Tuhan, ternyata itu botol bintang harapan ku yang sudah terlihat usang. Tak sadar aku telah melupakannya. Bagaimana aku bisa menyadarinya sekarang?. Dasar bodoh.

Ku dekati botol itu, dan segera mengambil tissue basah yang selalu ku bawa di dalam tas ku. Ku lap dengan perlahan, dan kudekap dengan erat sambil tak sadar mataku menitikkan air mata nya sendiri. Tak banyak pikir, aku pun duduk di sofa super empukku sambil memandangi botol indah itu dalam beberapa menit. Mereview segala kenangan bersama yang pernah terjadi.  Bintang-bintang emas kecil inilah yang berisikan catatan kecilku untuk meraih harapan, dia bak diary singkatku. Bintang harapan lah namanya, aku memberinya ketika aku umur 5 tahun dan aku telah menulis harapan-harapan kecil itu sejak pertama masuk sekolah di bangku sekolah dasar. Dan pada akhirnya botol itu pun terus terisi hingga penuh sampai harapan-harapan kecil itu tersampaikan dalam wujudku menjadi dokter anak. Miris memang mendengarnya, tapi itulah kenyataan yang ada. Kantuk ku pun hilang seketika, tak sangka ku kini telah memenuhi bintang harapan ku itu dengan menjadi seorang dokter anak yang hebat. Kan ku jalani pekerjaan ini dengan sepenuh hati dan tak kan ku tinggali pekerjaan ini apa pun yang akan terjadi. Seperti bintang harapan ini yang masih terus bersinar walau terabaikan dan harapannya yang telah terwujud. Terimakasih bintang harapan ku atas sinarmu yang setia menerangi ku apapun yang ku lakukan. Ku ambil plastik bening, dan ku bungkuskan kau di dalamnya dengan pita merah lucu yang mengikat di sisi pucuk mu, kutaruh di dalam lemari kaca ku agar aku masih tetap terus melihat sinarmu walau gelap sekalipun. Biarkan bintang-bintang harapan itu mendekap dalam kenangan manis dan berjalan seindah apapun yang terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s