CATATAN HALAMAN TERAKHIR

by, junita sari

“Mas… cepet dong bersihin nih lantai”

“iya, dik”

“Mas… ayo dong cepetan masaknya”

“bentar lagi, sabar ya”

“sabar sabar, laper nih”

“Mas… cepet dong, telat nih akunya”

“iya iya, makanya lain kali bangunnya pagian”

 “gak usah ceramah deh”

“Ayo silahkan masuk, jeng”

“Mas buat minum sana, ada tamu aku nih”

“Mas…………………… cepetaann dong”

 “iya, dik”

Beginilah keadaan rumah tanggaku, kami tinggal di salah satu perumahan di Jakarta Selatan . pernikahan kami sudah berumur  1 tahun. Pernikahan yang sangat tidak kusukai karena perjodohan antar orang tuaku dan mendiang orangtua suamiku. Aku tidak mencintai suamiku, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Sudah berulang kali kucoba untuk mencintainya, tapi semua itu sia-sia. Kami belum memiliki keturunan, karena aku tidak ingin memiliki keturunan dari suamiku.

Setiap hari yang mengerjakan pekerjaan rumah kuserahkan kepada suamiku. Dari menyapu dan mengepel lantai, memasak, mencuci hingga mengurus keperluanku dan belum lagi pekerjaan kantornya yang menumpuk. Ah.. masa bodoh. Dengan sabar suamiku menerimanya dengan senang. Hingga aku pun menjadi sangat manja.

Suatu hari orangtuaku menelpon dan menanyakan kapan kami akan mempunyai keturunan dan aku tidak mungkin menjawab  dengan jawaban tololku “Aku tidak ingin punya anak dari pria itu, bu” benakku, lalu kujawab saja begini “ iya bu, mungkin Tuhan belum memberi” . lagi lagi aku berbohong hingga melibatkan Tuhan.

Suamiku bekerja disalah satu perusahaan yang lumayan besar di Jakarta dan aku hanya berada dirumah dan sesekali mengunjungi butik keluarga di bogor. Aku sering merasa bosan di rumah karena tak ada hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Jadi aku sering pergi jalan keluar bersama teman-temanku tanpa minta izin terlebih dahulu kepada suamiku. Hingga suatu hari suamiku pulang dan tidak menemukan aku dirumah, ketika hari mulai menjelang  malam dan  hujan pun turun dengan derasnya  suamiku kelabakan mencariku kesana kemari dan akhirnya suamiku berhasil menemukanku di sebuah bar terkenal di jakarta.

Beberapa bulan  kemudian tepatnya hari minggu saat suamiku sedang cuti kerja, aku menyuruhnya untuk membuatkan pecel kesukaanku “ Mas, aku kepengin pecel” ketusku, “Aku buat ya”jawabnya dengan nada yang lembut seperti biasa. Setelah pecel itu jadi ntah kenapa aku sangat bersemangat menyantapnya hingga ludes dua porsi  “Enak ya, dik” sambil suamiku tersenyum. “Huh” kupalingkan wajahku dan pergi begitu saja.

Brukk .. “astaghfirullah, dik kamu kenapa” tanpa pikir panjang suamiku langsung menggendongku dan memasukkanku kedalam mobil. Dengan cepat suamiku mengemudikan mobil nya  menuju rumah sakit. Suamiku menelpon orangtuaku untuk memberitahukan kalau aku sedang berada dirumah sakit.  Tak lama aku pun sadar dan melihat sudah berkumpul suami dan orangtuaku. “Aku kenapa bu?” tanyaku, “Kamu tadi pingsan nak, apa kamu sekarang sudah enakan”. Aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padaku tadi. “oh iya, aku merasa pusing setelah menyantap pecel  buatan mas ilham, bu”. Aku mulai dipenuhi fikiran buruk kepada suamiku yang  menuduh kalo dia telah menaruh racun di pecel itu. kemudian dokter datang dan membawa berita yang buruk buatku. “ini semua keluarga saudari Rita sudibyo” ,”iya kami keluarganya, saya orangtuanya dan ini suaminya”. Dokter itu tersenyum dan membuat bingung kami. “ selamat ya pak, istri anda hamil dan sudah memasuki bulan ke 4” sambil menjabat tangan suamiku. “ SIAL…” aku mengumpat sejadi-jadinya dibenakku. Wajah bahagia jelas tergambar di wajah orangtuaku,  apalagi mas ilham.

Setelah mengantar kedua orangtuaku, kamipun pulang. Sepanjang perjalanan aku memperhatikan wajah suamiku yang sangat bahagia dan itu membuatku tambah kesal. Sesampainya dirumah aku langsung turun dari mobil dan masuk kerumah. “hati-hati, dik” kata mas ilham lembut,“LEPASKAN” sentakku kepada mas ilham. Sekilas aku melihat wajahnya, ntah apa yng merasukiku tak ada lagi rasa kasihan terhadap suamiku sendiri.

Setelah mengetahui aku hamil, suamiku sering berada dirumah dan pulang lebih awal. Setiap hari wajahnya dipenuhi kebahagiaan. Aku semakin menjadi-jadi , setan telah merayapi fikiranku. Ketika suamiku tak berada dirumah, berbagai obat dan ramuan aku minum agar janin di rahimku gugur. Tapi sialnya semua itu tidak berhasil dan akhirnya aku menyerah. Suamiku benar-benar kujadikan budakku. Semasa mengidam hingga melahirkan dialah yang kurepotkan. Aku melahirkan seorang putri yang cantik dan lucu tapi aku sangat kesal ketika mengingat kejadian lalu.

Sekarang putri kami berusia 7 tahun. Setiap pagi dan malam suamikulah yang menyiapkan sarapan, karena aku tak ingin makan semeja dengannya kusuruh saja dia makan di ruang kerjanya. Ntah apa yang dia makan aku tak peduli karena dia hanya menyiapkan dua porsi saja setiap masak. setelah meletakkan makanan dan mencium nadia suamiku pergi menuju ruang kerjanya. Suamiku adalah orang yang benar-benar baik dan taat terhadap agama, setiap kali di mengajakku solat berbagai alasan aku berikan.

Setiap hari suamiku terlihat sangat sibuk di ruang kerjanya. Bolak-balik kantor sudah menjadi kegiatannya saat ini. Setiap malam sering kali kudengar suara batuk dari ruang kerjanya, tapi aku benar-benar tak ingin tahu. Ntah apa yang menyibukkannya saat ini. Aku tak pernah menanyakannya  “terserahlah, aku tak peduli”. Gaji yang kuterima setiap bulan selalu habis kugunakan untuk merawat diri disalon dan berbagai keperluanku dan anakku.

Suatu hari suamiku akan pergi kekantor taklupa mencium nadia.“Lepaskan aku mas”, suamiku memelukku erat  tanpa takut kalau aku akan marah besar. “Ayah pergi ya, nak. dadah”. Hari ini aku dan anakku pergi belanja dan sialnya aku lupa membawa dompet . karena jarak mall dari rumah lumayan jauh aku pun menelpon suamiku untuk membawakan dompetku.

“ Halo mas, aku dan nadia sedang di mall dan aku lupa membawa dompet”

“Dimana kau letakkan dompetmu, dik?”

“Aku lupa dimana meletakkannya, cari saja dirumah dan bawakan kemari”

“Tunggu sebentar ya, mas bereskan berkas dulu lalu pulang mengambil dompet”

“Ya… cepat ya mas”

“Iya, tungg..” tak sempat suamiku melanjutkan percakapan ku langsung matikan handphoneku.

Cklek … “dimana Rita menaruh dompet” suamiku mencari dompetku di semua ruangan dan akhirnya menemukannya di atas kursi dapur. Tanpa banyak bicara suamiku langsung menghidupkan mesin mobil dan menuju tempatku. Sudah satu jam suamiku tak kunjung datang, aku dan nadia sudah sangat capek menunggunya. Ku telepon berkali-kali tak ada jawaban satu katapun. Aku semakin di selimuti amarah. Drrt .. drrt .. akhirnya suamiku menelpon. “ Halo mas, kamu dimana sih aku sudah capek nunggu kamu mas. Cepet dong !!” sentakku . “ Maaf bu, apa ini istri yang punya handphone ini” jawab seseorang di balik telepon. “ iya, ini siapa ya” jawabku pelan, “suami anda mengalami kecelakaan dan sekarang di bawa kerumah sakit, bisa anda kemari”. Sontak aku terkaget, fikiranku kosong mataku terbelalak hingga meneteskan air mata, ntah kenapa hatiku sangat hancur mendengar berita itu. Padahal tak ada perasaan sedikitpun selama ini tapi,berita ini mampu melumpuhkan semua persendian di tubuhku.

Suamiku meninggal dan sekarang aku seorang janda. Hatiku benar-benar hancur dan tak tahu arah, anakku ku titipkan pada orangtuaku. Ku tatapi semua keadaan di rumah ini dan mengingat-ingat betapa baiknya suamiku. Aku menangis mengingat kelakuanku kepada suamiku. Aku memasuki ruang kerja suamiku ku lihat komputer usangnya dan tumpukkan berkas-berkas. Kulihat salah satu berkas yang membuatku penasaran. Itu adalah berkas hasil analisis dokter, ternyata selama ini suamiku mengidap penyakit jantung kronis. Selama ini aku tak tahu apa yang dilakukannya, kesukaanya, perasaanya, apa yang dimakan, karena kami tak pernah makan bersama, aku bahkan tak pernah melayaninya sebagai seorang istri. Dan suamiku pun mencatat data keuangan dan rancangan masa depan aku dan nadia. Kutemui halaman terakhir dari catatan ini, yang membuat aku tersentuh dan menangis sejadi-jadinya.

“ Dik, saat kau membaca catatan ini mas sudah berada jauh disisi Tuhan. mungkin sekarang kamu sedang merasa sedih, jangan menangis  kau harus kuat sayang. ini semua adalah catatan yang mencakup data tabungan yang aku buat selama kita menikah. Kamu pasti heran dari mana aku dapat uang untuk disisikan di tabungan ini, mengingat semua gaji yang mas dapat  telah mas berikan padamu dik. Mas tahu semua gaji itu akan habis olehmu. Tabungan ini berasal dari bisnis kecil-kecilan yang mas buat dan dari bonus yang diberikan bos mas. Maaf mas tak pernah cerita tentang bisnis ini karena mas tak punya kesempatan untuk cerita padamu.  Dik Rina yang mas sayangi gunakanlah dana dan uang asuransi kematian mas nanti buat keperluan nadia sekolah dan kamu dik. Dik Rina yang manja, sekarang mas tidak bisa merawat adik lagi. Sekarang berusahalah sendiri dan jadilah mandiri karena kamulah yang akan membesarkan nadia. Jika kamu ingin menikah lagi mas izinkan kamu untuk menikah lagi. Maafkan suamimu ini sayang.

Mas sayang kamu dan anak kita Nadia ..  “

Aku benar-benar merasakan luka yang dalam, bagaimana bisa aku menelantarkan suamiku yang sangat baik ini. Ditambah aku tidak pernah tahu kalau suamiku memiliki penyakit jantung, dan kubiarkan dia makan mie instant setiap hari karena aku tidak pernah memasak untuknya.

Sudah 10 tahun berlalu, nadia kecil kami telah tumbuh besar. Hingga sekarang aku masih menyimpan sesosok mas ilham yang baik dihatiku. Aku masih mempertahankan gelar janda, karena aku tidak akan menggantikan sosok mas ilham dengan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s