Danau dalam memori

by, junita sari

Senja kali ini mengingatkan ku pada suasana danau, yang terekam lekat dalam memoriku. Bak awal kisah hidupku dimulai dan di akhiri di tempat indah itu. Hingga saat ini aku telah menjadi seseorang perancang baju sukses dan ibu dari buah hatiku. Semua perjuangan hidupku tertuang nyata menyatu dalam tenangnya air danau. Aku pun me-review kisah itu, dan inilah jalan cerita singkat hidupku …..
“ Hosh .. hosh .. jam 7.45. Huft .. masih ada 15 menit lagi untuk bisa tepat waktu”, rintih ku.

Lalu lalang kendaraan yang saling berlomba-lomba untuk sampai ketujuan masing-masing meramaikan jalan tol kota. Sebagai seorang pelayan yang pekerja sampingan membuatku ku di tuntut untuk gigih berkuliah sambil bekerja, mengingat ibu yang hanya seorang single parent. Aku lah satu-satunya yang diharapkan keluarga kecilku – ibu, dan adikku Keysha. Bersemangat, percaya, dan lakukan maka kau akan berhasil – itulah yang menjadi motto hidupku untuk tetap terus bertahan hidup sampai sekarang.

“ Haii .. semuanya ! Halo bos .. ! “, sapaku ketika sampai di restoran seafood ternama punya bos ku.

“ Kau hampir telat lagi Vey ! . Ya sudah, cepat ganti seragam mu sana !”, sahut bos ku.
“ Hehe, kalu nggak hampir telat, ya bukan Veyla namanya bos. Hem, sip bos” jawabku ringan dan bersemangat.

Untungnya aku mempunyai bos yang tampan, gagah dan sangat baik sekali. Membuat semua pekerjaan serumit apapun menjadi lebih ringan berkatnya. Terima kasih bos.

Aku berjalan menyusuri jalanan tol kecil untuk sampai ke halte busway, ku pandangi langit senja itu sambil mengingat kuliah dan pekerjaan ku telah selesai untuk hari ini, bukan untuk esok, dan seterusnya. Uh, aku harus cepat pulang, tak sabar rasanya melihat senyuman yang akan diukir oleh ibu dan adik kecil ku Keysha.

Ting.. tong .. ku tekan bel rumah ku untuk menandakan bahwa aku sudah pulang. Cekleek ..

“ Kak Vey udah pulang, horeee. Ayo, cepat masuk kak. Ibu telah memasakkan makanan yang enak sekali untuk kita.”, sambut adikku dengan riang.

“ Haii, Key sayang. Benarkah, baiklah mari kita cepat makan malam bersama.”, sahutku dengan ramah.

Kami memang lah keluarga yang sederhana, tetapi banyak memiliki arti yang besar di balik kesederhanaan itu.

Hari ini adalah hari minggu, waktunya untuk ku cuti dari segala kesibukan yang ada. Hari ini juga waktunya untuk ku mengunjungi danau. Me-refresh pikiranku dari segala hal yang memusingkan dunia. Danau , dimana aku dapat melihat indahnya pelangi secara jelas, dan mengenang masa-masa yang indah ketika ayah masih ada, ketika kecelakaan kereta api itu tidak terjadi.

Tak sabar sudah, aku pun  menghidupkan sepeda motorku, dan langsung melaju ke danau. 30 menit berikutnya akupun telah sampai ke danau.

“ heemm,,, (sambil menarik nafas dan menghembuskannya kembali) .. sejuknya udara pagi ini.  Halo Danau ku .. lama sudah tak berkunjung. Kau masih saja tetap asri”, ocehku sendiri ketika sampai di danau.

Aku sengaja ingin ke danau sendirian, tanpa ingin ditemani siapapun. Aku rasa, itu akan terasa lebih bebas untuk menjernihkan pikiran dan ingatanku. Aku pun memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang, tempat dimana aku dan keluarga ku dulu sering ber-camping menatap bebas keasrian danau. Aku pun tersontak mengenang masa kecil ku lalu. Sejak kecil, danau adalah temanku, di saat aku sedih, senang pun aku pasti akan kesana. Karena di dekat danau ada taman bermain, makanya aku gemar sekali bermain di danau ini bersama Keysha di temani ayah dan ibu yang mengobrol ria sambil memakan cupcake buatan ibu. Dikalau aku sedih, aku lebih sering bermain ke danau yang hanya duduk menepi di pinggir danau. Itulah yang kulakukan untuk mengembalikan moodku kembali.

Nampaknya langit tak menginginkanku untuk berlama-lama di danau kali ini, warna keabu-abuannya telah menunjukkan hujan akan turun. Akupun meniatkan untuk pulang saja ke rumah, itulah pilihan terbaikku saat ini.

Hari-hariku akan menjadi hari-hari yang sibuk untuk beberapa bulan kedepan, mengingat aku harus menyusun skripsiku untuk bisa mendapatkan gelar wisuda dari kuliah jurusan designer ku. Demi mencapai cita-citaku menjadi perancang busana, tak letih aku untuk bekerja keras demi kelulusan itu. aku terus berdo’a dan memohon untuk itu. Ditambah lagi aku juga harus memikirkan pekerjaan sambilan ku sebagai pelayan di sebuah restoran seafood membuat ku harus mengeluarkan tenaga  yang ekstra untuk menjalani hidup ku. Memang benar, menjadi orang dewasa itu menyenangkan tetapi sulit di jalani. Terkadang aku merindukan masa kecilku yang indah dan bahagia. Ya, inilah kehidupan. Semua ada masa-masanya. Sebagai anak tertua, inilah kewajibanku untuk melindungi dan mengurusi keluarga kecilku ini agar tetap hidup dan berdikari tanpa seorang kepala keluarga. Yang hanya berpenghasilan yang berkecukupan sebagai seorang penjahit, ibu pun begitu berusaha dan bekerja keras demi anak-anaknya agar tetap hidup berkecukupan, layak, dan berpendidikan membuat hatiku miris melihat peluhnya ibuku ketika bekerja. Aku berjanji pada diri sendiri untuk bisa membahagiakan ibu dan Keysha nantinya. Tunggu aku ibu, janjiku.

Dengan begitu usaha, dan do’a 3 bulan sudah aku bisa menyelesaikan skripsi kuliah ku dan aku lulus. Di hari wisuda yang sangat ku nanti-nantikan, ku lihat senyuman yang diukir ibu membuat hatiku meleleh melihatnya. Ku peluk ibu dan aku pun sangat berterima kasih atas do’a yang selalu ia haturkan untuk aku, anaknya. Aku sayang Ibu.

Telah ku terima gelar sarjanaku dan ku putuskan untuk berhenti bekerja sambilan menjadi salah seorang pelayan di restoran seafood tempat dulu ku bekerja. Tak luput, aku pun mengunjungi danau ku sesudah aku menghadiri acara wisudaku. Ku ajak ibu, dan keysha untuk berfoto disana. Merekam kenangan indah ini di tempat yang indah.

Ku kumpulkan seluruh rancangan baju-baju yang telah ku buat selama aku kuliah hingga sekarang menjadi buku tumpukan lembaran rancangan baju buatanku. Ku coba mengirim ke pusat penerbitan buku dan alhamdulillah buku rancangan bajuku pun dapat diterbitkan. Beruntungnya, banyak sekali orang yang menyukai hasil rancangan bajuku itu dan bahkan menawarkan aku untuk bekerja sama. Tak banyak pikir, aku pun menerima sebuah tawaran untuk bekerja sama denganku sebagai pemodal untuk membuka butik baju yang besar untuk memajang sekalian memasarkan hasil rancangan bajuku. Ibu Tika lah yang menawarkannya kepadaku, karena Ibu Tika adalah salah seorang teman ibuku aku pun percaya padanya. Ibu Tika pun membuka butik baju di salah satu mall besar di Bandung. Sejak saat itulah aku, ibu dan Bu Tika mengembangkan butik itu. Aku merancang baju, ibu membuatnya, dan bu Tika yang memodali dan mempromosikan baju-baju butik kami. Atas kerja keras kami, butik kami pun berkembang pesat sehingga banyak di kenal masyarakat dan sanggup bersaing dengan baju-baju beremerek lainnya. Kini usaha kami pun sukses, pekerjaan burtik kami serahkan pada pekerja dan kami hanya menghandle dan meberikan ide untuk perkembangan bisnis kami. Aku dan ibupun tak perlu susah-susah lagi untuk mencari uang, dengan bisnis kami inilah membuat kami lebih ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Hubungan keluarga kami dan ibu Tika pun selayak saudara sendiri, apalagi aku dan anak laki-laki bungsunya bu Tika, Eza telah menjalin hubungan kasih selama 3 tahun. Kami pun memutuskan untuk menghalalkan hubungan kami dalam ikatan perkawinan. Dan butik itu telah menjadi bisnis keluarga besar kami hingga sekarang. Setelah menikah, akupun mengunjungi makam ayah dan melihat danau ku, aku rindu sosok seorang ayahku yang hebat. Aku pun tak dapat menampung air mataku dan tertumpahkan dengan natural bersatu padu bersama heningnya air danau. Eza, sumaiku hanya dapat memelukku tanpa kata-kata melihatku. Aku ingin bercerita pada ayah bahwa aku kini telah sukses, aku kini telah menikah, dan aku kini sangat rindu pada ayah dan ingin sekali mengajak ayah di dalam kebahagiaan ku saat ini. Membuatku mengenang ayah saat bahagia dulu. Aku rindu saat-saat itu, saat dimana kami sering camping bersama saat liburan di danau, berbagi cerita bersama, tertawa bersama, berfoto bersama , semua bersama saat keluargaku masih utuh, ada ayah, ibu, aku , dan Keysha. Tuhan .. tolong lah sampaikan sejuta sayangku untuk Ayah. Aku rindu ayah.

Kini kurasa hidupku telah bahagia, ingin kunikmati masa-masa indah dan cerita hidupku bersama danau dalam memoriku sampai akhir hayat”.
Itulah kisah hidupku yang merekam segala kenangan indah dan sedihku bersama danau dalam memori. Aku ingin selalu ku simpan, ku simpan, dan kusimpan erat dan terkunci rapat dalam memori ini. Jangan kau lari kenanganku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s