Impian Sang Kakek

by, Junita Sari

           ” Penyesalan memang selalu datang di akhir, ibarat nasi telah menjadi bubur ” , ya .. itulah kenyataannya. Memang sudah manusiawi, setiap manusia selalu tergiur akan keelokan sebuah keagungan dunia ssehingga lupa kepada siapa semestinya ia patut berterima kasih.

               Cukup Tuhan …  aku mohon kepadaMu. Aku tahu ini karma bagiku, dan aku tak bisa lari dari hukuman ini. Ya, Itu memang aku, yang selalu tergantung pada orang lain dan selalu merengek untuk meminta ini dan itu serta berbagai kemauanku lainnya. Itu memang aku, yang selalu tak pernah bersyukur atas segala apa yang telah aku punya. Itu memang aku, yang selalu malas untuk berdiri di atas kaki sendiri. Itu memang aku, yang selalu dipenuhi akan kegeloraan dunia yang mempesona. Itu memang aku, yang benci di atas kemenangan orang lain. Itu memang aku, yang masih manja dan bersifat kekanak.-kanakan disaat usiaku beranjak dewasa. Dan, itulah aku di 2 tahun yang lalu. Tapi apa daya, di balik kejayaan itu Tuhan mempunyai rencana lain yang luar biasa. Sebuah pelajaran yang tiada tandingnya. Aku belajar bahwa kita tidak akan terus selalu diatas, tetapi pada waktunya kita pasti akan jatuh ke bawah juga. Hidup memang selalu berotasi. Aku memang terlalu bodoh untuk tersadar disaat semuanya telah berubah menjadi penyesalan. Aku tidak memanfaatkan kenikmatan yang Tuhan beri selama ini. Kini sia-sia saja.

                     Aku merasakan sangat pahitnya hidup itu ketika aku lulus dari SMA, hubungan keluargaku retak. Papi dan Mami telah bercerai, aku dan kakak-kakak ku terombang-ambing tak tahu harus ikut siapa. Aku dan kedua kakakku selalu bertengkar atas segala kesalahan sekecil apapun. Tak lama, bisnis papi pun bangkrut. Setiap tes masuk universitas yang aku ikuti semuanya gagal, aku tidak di terima di universitas manapun yang aku damba-dambakan. Semua teman-teman ku menjauh, aku terdeskriminasikan. Aku sangat terpukul sekali pada waktu itu. Makna arti kehidupan benar-benar aku dapatkan. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di universitas swasta biasa yang ada di kota halamanku, Bandung. Semua harapan dan cita-citaku telah sirna, hanya dalam sekali sapuan dan hancur begitu saja. Tapi tunggu, aku masih menyimpan 1 impian ku yang masih ku pegang erat dengan lekat. Almarhum Kakek pernah berpesan padaku, hendaklah aku menjadi penerus kakek sebagai seorang penulis terkenal sama seperti ia di usia mudanya. Cukup sudah.. tak mau kuulang kepahitan itu untuk kedua kalinya, tak mau ku sia-siakan. Di kesempatan kedua inilah, aku memutuskan untuk mulai membangun tiang impian itu perlahan-lahan. Tapi aku takut, takut jikalau karma ku masih ingin menuntut atas dosa-dosa yang telah aku perbuat, impian terahir ku ini tak akan mungkin tercapai, dan kakek yang tak akan mengukirkan senyuman indahnya. Aku bertekat dengan bersungguh hati dan selalu berdo’a demi impian kakek ini. Berjuang dan belajar membenahi diri menjadi lebih baik. Dengan penuh syukur ,akhirnya aku pun dapat lulus dari universitas selama 4 tahun dengan berbagai prestasi-prestasi tentang tulisan-tulisan ku. Dengan kebesaran hati Tuhan, aku pun dapat mewujudkan impian ku itu, Setelah wisuda dan menyandang gelar sarjana sastra inilah, aku mempublikkan semua karya-karya ku entah itu kumpulan cerpen, artikel, pantun, novel ataupun puisi buatan ku sendiri. Karya-karya itu merupakan  hasil kerja keras ku selama 4 tahun di bangku kuliah, dengan bangga akhirnya karya-karya yang aku publikasikan banyak mendapat respon dan pujian dari orang-orang. Aku pun mulai menerbitkan karya-karyaku itu dan sejak itulah karirku menjadi seorang penullis dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s